Hembusan angin yang cukup kencang dan barang dagangan yang mudah terbakar membuat api susah dipadamkan. Beberapa penyebab lain sulitnya pemadaman api adalah meski hanya berjarak 100 dari pangkalan PMK, hidran yang ada di Pasar Turi mati, sehingga mobil PMK harus bolak-balik mengambil air di tempat lain. Belum diputusnya aliran listrik utama Pasar Turi juga menghambat pemadaman api.
Pemadam kebakaran terus berusaha memadamkan api agar tidak menjalar kebagian yang lain. Selain berjuang melawan api, mereka juga harus berjuang melawan kelelahan, mengingat kebakaran tersebut sudah berjalan 2 hari.
Tidak ada korban jiwa dalam kebakaran tersebut, tetapi kerugian material ditaksir hingga miliaran rupiah. Banyak pihak yang meyakini bahwa kebakaran tersebut merupakan rekayasa, karena tepat di depan Pasar Turi terdapat ‘Pusat Grosir’ yang baru buka namun sepi peminat. Hingga kini penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan pihak yang berwajib.
Sejumlah pedagang mencoba mengais-ais reruntuhan untuk mencari barang dagangannya yang masih utuh di dalam Pasar Turi
Untuk sementara barang2 para pedagang di letakkan di halaman Pasar Turi sebelum dipindah ke tempat masing2.
Saya tidak memotret kebakaran dari awal karena selain tidak tahu, saya mendapat penugasan dari kantor. Sekedar untuk diketahui, saya bekerja sebagai staff fotografer di sebuah majalah lifestyle di Surabaya yang biasa memotret fashion, makanan, interior & eksterior rumah. Baru keesokan harinya (karena ternyata kebakaran belum padam) saya mendapat ijin dari kantor dan memotret kebakaran Pasar Turi, meski hanya 1 jam (gak boleh lama2 he..he..). Semua foto ini saya ambil dengan kamera nikon D100 dan lensa 20mm fix.
Naskah & Foto : Boby Matanesia